17 April 2016

Aroma Teh Yang Sedap

    5:46 PM   1 comment






illustrasi
Ide Cerita & Penulis  BAGUS H
“Kkringggg…. Kringg….” ,bunyi jam terdengar keras.

“Ah kenapa sudah pagi? Padahal aku belum sempat tidur. Lagi-lagi begini? Hmm…tiap malam tidak pernah tidur gara-gara lembur kerjaan.”

Aku Irman. Aku bekerja di perusahaan periklanan. Jadi sana sini pasti di kejar dead line, ini sudah 5th sejak aku lulus sma dulu. Beberapa bulan lalu aku diterima di kantor priklanan baru. Tapi sekarang hari-hariku mulai sibuk, banyak hal yang aku kerjakan di kantor baruku ini. Mungkin dulu aku memang sulit untuk menjalin pertemenan dengan anak – anak sebayaku, tapi berbeda sekarang, satu kantor udah kayak keluargaku sendiri.

“ Man… Bangun! Udah siang nanti telat kerja kamu”, panggil Mamaku.

“ Iya Ma. Ini baru mandi”, sahutku. “ titit… titit…”, bunyi sms d hp ku.

Bos kerjaannya di tunggu di kantor jam 7.30 pagi ini

” Aduh telat nih. Udah jam 7 lagi”, segera aku bergegas ke kantor.

“ Loh… hee makan dulu jangan pergi dulu!”

” Telat Ma…”

” Ehh , ni anak… Makan rotinya aja! Tu teanya juga habisin!”

Aku sudah tidak ingin mendengarkan ucapan Mama. Aku melaju ke kantor dengan kecepatan penuh. Sesampainya aku di depan kantor, si Andi temenku yang sudah menunggu.

“Gimana kerjaannya? udah?”

“Iya ini sudah, tinggal revisi dikit-dikit”

“Bagus Loe memang bisa diandelin”

“Gila Loe. Tiap hari gue disuruh lembur”

“Iya maaf, hehe”

Dan sebenarnya yang aku lemburin bukan kerjaanku. Ya si Andi ini temen sekantor yang sering meminta pertolongan untuk menyelesaikan tugasnya,apalagi jika dia sibuk kencan dengan pacarnya. Karena aku sedang free (dari sebuah hubungan) ya aku mau mau aja. Sediki cerita ,aku sih udah nyari, tapi emang belum ada yang cocok.

“ Eh ini yang perlu di refisi yang mana?”, tanya Andi kebingungan.

“ Itu, Ndi. Slide kedua dan kelima. Bingung mau diisi apa lagi? Loe isi sendiri ya Ndi!”

“ Man dipanggi bu Ani!”, tiba-tiba ada suara wanita setengah baya menegurku. Dia mbak Erna, sekretaris bu Ani bos di kantor ini. Aku menolah reflek kearah sumber suara dan ternyata mbak Erna di belakangku.

“ Kenapa Mbak? “

“ Wah, Gue juga gak tau tuh. Loe samperin dulu gih!”

Aku berjalan memasuki kantor dan menuju ruangan bu Ani. Sesampainya di depan ruangan, aku mengetuk pintu perlahan.

“Tok… Tok… Tok..”, lalu kubuka pelan pintu ruangan bu Ani.

“Permisi Bu. Ibu memanggil saya kata mbak Erna?“

“Iya Man.. Silahkan duduk dulu!”

Akupun tersenyum. Tapi perasaanku sedikit tegang. Bu Ani melanjutkan pembicaraan.

“Man makasih ya buat bantuan kamu kemaren.Duh..kalau gak ada kamu gak tau bakalan gimana?”

“Oh iya Bu. Sama-sama”,kemudian aku tersenyum dengan perasaan lega.

Jadi cerita malam itu kebetulan aku lewat jalan yang sama dengan bu Ani, gak tau kenapa mobil bu Ani mogok di tengah perjalanan. Aku yang waku itu sedang jalan menuju tempat penjual nasi gorang langgananku mendapati bu Ani yang terlihat kebingungan sendiri. Untungnya aku punya kenalan temen yang punya bengkel dan bisa aku panggil jam 11 malam buat benerin mobil mogok.

Sekitar 10 menit aku ngobrol sama bu Ani. Lalu aku bergegas dari tempat duduk dan ijin keluar ruangan karena harus menyelesaikan pekerjaanku.

“Ya sudah Bu, saya mau kembali ke meja kerja dulu kalau begitu”

“Iya Man. Makasih ya sekali lagi”, bu Ani sambil mengangkat telepon di sampingnya yang berbunyi barusan.

Hari sudah mulai sore. Aku merasa sedikit lebih lelah dari biasanya. Jadi aku putuskan untuk menyelesaikan kerjaan lebih cepat, dan kemudian aku bisa pulang lebih awal. Ini diperblehkan di perusahaan tempat kerjaku. Asal sesuai target.

“Loh, mau kemana Man?”, Sapa temanku.

“Mau puluang”

“Emang kerjaan dah kelar? Ini masih sore. Buru-buru amat?”,kata mereka.

“Iya udah kelar semua. Gara- gara Andi nih. Gue jadi ngantuk gak tidur semalem”, jawabku sambil berjalan menuju keluar ruangan.

“Hati – hati Man! Moga-moga ketemu jodoh di jalan. Haha”, ledek salah seorang dari mereka

“Iya sip…”, jawabku dengan cuek.

Ditengah perlananan menuju rumah. Aku putuskan untuk mampir di salah satu kedai minuman yang sudah menjadi langganan sejak aku SMA. Mobil aku parkir diselah kanan kedai berjajar dengan mobil lainnya. Maklum kedai ini memang cukup laris,karena tempatnya yang nyaman dan harganya relati murah tapi gak kampungan. Aku keluar dari mobil dan menuju kedalam kedai. Saat tiba di pintu masuk tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis seumuranku yang berjalan berlawanan arah denganku dan sedikit tergesa-gesa.

“Aw…”,teriak gadis itu, mungkin dia kesakitan.

“Eh maaf. Aku gak sengaja” , kataku sedikit panik dan membantunya mengumpulkan barang – barang yang keluar dari tas yang terjatuh dibawanya tadi.

“Gak papa kog”, jawab Dia sambil memperhatikanku. Aku tak begitu memerhatikan wajah Gadis itu. Dengan sedikit menunduk, akupun melanjutkan langkah memasuki kedai.

“Eh, Mas”, panggil Gadis itu.

Akupun menoleh dan berhenti . Dia hanya tersenyum sekejap dan kemudian memalingkan wajah dan berlalu pergi. Belum sempat aku melihat wajahnya, dengan heran kemudian aku melanjutkan langkah menuju bar tempat memesan minuman favoritku.

Kenapa Dia?

Setelah memesan aku duduk disalah satu meja dekat dengan cendela dengan pemandangan taman sekitar kedai. Akhirnya pesananku tiba. Tea susu yang biasanya aku pesan. Aku meminunnya selagi masih panas. Karena itu bagian favoritku. Sedikit aku seduh dan menaruh gelasnya di tatakan di atas meja. Aku memandangi sekitarku dan juga taman di luar kedai itu.Aku memikirkan seorang gadis yang tersenyum padaku tadi. Sosok yang sepertinya aku kenal. Tapi entahlah, aku berusaha melupakan hal itu. Datang seseraong menhampiriku dan memecahkan lamunanku.

“Mas Irman. Sudah lama to duduk sini Mas?”, ternyata Pak Budiman, pemilik kedai yang memang sudah mengenakku dengan baik.

“Pak Budi. Kaget saya Pak. Hehe… Barusan duduk kog ini”, jawabku.

“kedainya makin lama makin ramai ini Pak”, Lanjutku.

Pak Budi sambil duduk di depan ku.

“Alhamdulillah mas. Inikan, berkat bantuan Mas juga, karena setia jadi langggana kami”

“Pak Budi ini bisa aja”

“Mas Irman liat cewek yang pake merah muda tadi gak? Yang duduk di sebelah situ?”, tanya pak Budi sambil menujuk salah satu meja kosong di belakangku.

“Ah nggak pak, Saya gak ngeliat siapa siapa tadi. Emangnya kenapa Pak?”

Pak Budiman jutru tersenyum sambil menjawab.

“Loh, kog gak tau? Itu ceweik yang duduk sebelah situ llo. Itu ceweknya Mas Irman yang dulu sering diajak kesini”, jelas pak Budi.

Aku sedikit terkejut mendengar pernyataan pak Budi.

Jangan-jangan cewek yang tadi

Kemudian aku tersenyum.

“Loh, mas Irman malah senyum – senyum sendiri to?”

” Ah iya Pak tadi tu saya menabrak seorang cewek di depan situ. Bajunya juga warna merah muda”,
kataku menjelaskan sambil menujuk tempat kejadian aku menabrak seorang gadis tadi.

“Saya gak begitu merhatiin wajahnya tadi. Gak sempet.”

“Wah gitu”, kemudian pak Budiman berdiri dari tempat duduknya.

“Eh ya sudah saya tinggal dulu Mas”,

“oh, iya Pak”, pak Budimanpun meninggalkanku.

Sepertinya dia sedikit berbeda
Apa benar Dia sudah kembali
Nanti sajalah, akan kutemui

Aku terbangun dari tidurku. Gak terasa sudah akhir pekan. Hari bebas dari kantor dan aku bebas melakukan aktifitas santaiku.

“Asyik libur… Hari ini kemana ya?”, kataku pada diriku sendiri, sambil bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.

Setelah lama berfikir di kamar mandi, aku putuskan untuk pergi ketaman kota.

Pagi itu aku berjalan sendiri di tengah taman Kota yang sejuk dengan bunga – bunga dan pepohonan. Kupasang headset di telingaku. Tampak taman ini juga dikunjungi muda- mudi yang asyik bercengkama sambil berfoto bersama, anak –anak kecil yang tengah menikmati permainan yang ada di sekitar taman, serta orang dewasa yang berjalan – jalan menikmati sejuknya taman. Akupun terus berjalan dengan santai, kemudian langkahku terhenti di bawah pohon besar nan rindang di tengah taman. Lalu aku duduk dan bersandar di bawah pohon dengan mendengatkan lagu untuk menenangkan pikiran. Lantunan musik dengan irama jass membuat mataku terpejam. Tiba – tiba ada suara seseorang tertawa kecil, aku acuhkan. Namun,tiba – tiba terdengar lagi, mataku masih terpejam. Ketika ku buka mata.

“Uwaaaaaaa”, tanpa sengaja kubenturkan kepalaku kebelakang dan kemudia beradu dengan badan pohon.

“dug”, sauaranya sedikit keras.

“Aduh”, aku mengeluh kecil.

Seorang gadis di depan mataku. Dia justru tertawa dengan kejadian yang aku alami. Lalu dia duduk bersila di depanku. Sambil mengelus – elus kepala aku mendangi gadis yang menertawaiku itu. Lalu aku malah ikutan tertawa. Akupun berdiri dia mengikutiku berdiri. Aku langsung memeluknya dan dia masih tertawa. Cukup lama aku memeluk dia.

“Hee.. Mau sampai kapan Kamu peluk aku?”, protes dia setelah berhenti tertawa.

Belum sempat aku melepas pelukan, kulontarkan beberapa pertanyaan kepada gadis itu.

“Ayunda, bagaimana kabarmu? Sejak kapan kamu ada disini? Kog bisa tiba-tiba di sini sih? ”,tanyaku dengan nada khawatir bahagia.

“Yah sudah cukup lama untuk memperhatikan wajahmu itu, sudah lepaskan dulu! Malu diliat orang tuh.”

“Kamu kapan pulangnya sih?”,tanyaku yang belum hilang rasa bahagiaku bertemu dengan Ayunda. Sambil duduk Ayunda menjawab pertanyaanku.

“Aku sudah lebih dari seminggu di rumah. Aku nyariin kamu terus. Tapi Kamunya ternyata sibuk terus”, dengan nada sedikit protes.

“Iya nih. Aku sibuk emang. Apalagi akhir-akhir ini. Jadi kemarin yang di kedai beneran Kamu?”

“Hehe iya”, dia menjawab singkat.

“Seneng banget rasanya bisa lihat kamu di sana?”,tambahnya.

“Iya aku selalu kekedai tea itu jika aku merindukan seseorang”,godaku.

“Hemmm… Bisa saja kamu? Kangen ya ma aku?”

“Eits,bukan Kamu kali, GR kamu ih”, sahutku

“Ih hayo sapa itu?” Tanyanya dengan sedikit kesal.

“Hehe ada deh pokoknya”, godaku.

“Huft… Kamu tuh gak berubah ya?”, sambil menggeser tubuhnya dan bersandar di pundakku.

“Minggu depan kerumah ya! Ada acara di rumah? Kamu harus datang!”, lanjut Ayunda.

“Wah ada acara apa nih? Kamu mau nikah ya?”, godaku.

“Emm mungkin”, jawabnyasambil berdiri dan kemudian berjalan pergi hendak meninggalkan aku yang masih duduk bersandar di pohon.

Lalu aku berdiri.

“Eh beneran kamu mau nikah?”

Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.

Entah kenapa rasanya aku menyesal bercanda dengan perkataanku tadi. Tiba-tiba saja janungku enggan berdetak sambil bertanya – tanya sebenarnya apakah benar Ayunda akan menikah? Padahal hari ini aku sangat senang karena aku telahbetemu lagi dengan gadis yang selam ini aku nanti. Namun, pertemuanku ini menjadi sangat buruk karena ku fikir dia akan menjadi milik orang lain. Aku berjalan pulang dengan langkah tak bersemangat. Sesampainya di rumah tak ada yang dapat aku lakukan. Aku terus memikirkan Ayunda yang akan menjadi milik prang lain. Cinta yang kusimpan bertahun-tahun lamanya kini lenyap tak tersisa.

Keesokan hari, aku masih tak berdaya. Berangkat kekantor pun serasa menjalani hal yang sangat berat. Siang harinya aku ijin untuk pulang lebih cepat dengan lasan kurang sehat karena takut malah mengacaukan semuanya. Dalam perlajanan pulang, aku putuskan untuk mampir ke kedai tea.

Aku memesan tea susu, aroma tea yang sedap sedikit menghilangkan penat dalam fikiranku.

“Mas Irman, wajahnya kok murung mas?”,sapa pemilik kedai.

“Eh Bapak. Iya nih Pak, lagi banyak fikiran saya.”

“Loh mau nikah masih mikirin apalagi to Mas Irman ini?”

“Pak Budi ini ? Siapa yang mau nikah? Ada-ada saja Bapak ini.”

“lo bukanya Mas Irman yang mau nikah sama mbak Ayunda?”

“Bapak dapat info dari mana?”

Lalu Pak Budi bercerita banyak padaku. Sebenarnyabeberapa bulan yang lalu, Pak Budiman menjamu tamu khusus atau bisa dibilang tamu itu adalah orang tua Ayunda. Orang tua Ayunda datang dengan kerabatnya dan membicarakan tentang perjodohan Ayunda dengan seorang pria, yang telah menjadi pilihan orangtuanya. Mendengar cerita tersebut, akupun terkejut. Tubuhku rasanya panas dingin. Dada serasa sesak bukan main. Terlebih Pak Budiman mengatakan mendapat undangan khusus dari orang tua Ayunda.

“Saya berharap mempelainya nanti itu Mas Irman”, kata Pak Budi melanjutkan pembicaraanya.

“Setiap mbak Ayunda datang. Dia juga ngobrol dengan saya. Katanya dia sebenarnya menolak dengan perjodohan itu. Tapi demi keluarganya mau tidak mau dia harus mau, kelihatanya mbak Ayunda juga sedikit tertekan seperti Mas Irman. Tapi dibalik kesedihannya dia tersenyum. Dia juga bilang kalau dia mampu bertahan karena semangat yang diberikan Mas Irman dulu”, tambah Pak Budiman.

Fikiranku semakin kacau. Entah apa yang harus aku lakukan. Sempat terfikir melakukan perbuatan nekat. Tapi aku tak ingin membuat Ayunda kecewa. Rasanya aku ingin meninggalkan kehidupanku saat ini tapi keraguan, kecemasan, dan rasa menyesalku beradu menjadi satu.

Dua hari sudah aku melewati hariku dengan perasaan kacau. Bahkan selama dua hari aku tidak masuk kerja dan hany berdiam di kamar. Aku hanya berharap sebuah keajaiban datang. Dua hari lagi, gadis pujaanku akan bertunangan. Melihat keadaanku, keluagaku cemas dan mencoba menghiburku. Aku melihat jam masih pukul setengah tuju sore, aku ambil jaket dan kunci motorku, aku pacu secepat mungkin menuju rumah Ayunda, aku ingin mendapatkan penjelasan dari dia, aku tak perduli dengan segala hal yang akan terjadi padaku. Dalam fikirku, aku hanya ingin berbicara dengan Ayunda dan mendapat penjelasan dari dia.

Dan akhirnya aku sampai di depan gerbang pintu rumah Ayunda.

“Selamat malam pak. Ayundanya ada?”, sapaku kepada seorang satpam penjaga rumah.

“Maaf Mas. Mbaknya lagi gak ada”, jawabnya dengan agak sinis.

“Loh tapi mobil dia ada itu Pak”, sambil kutunjuk sebuah mobil yang diarkir depan pintu di halaman teras.

“Kog ngeyel ya dikasih tau. Dibilang gak ada ya gak ada”, tegas satpat tersebut menegurku dengan nada tinggi.

“Pak, saya nanya baik-baik. Jangan kayak gitu dong jawabnya!”, kataku kesal.

Tanpa sengaja aku melihat ayangan Ayunda melintasi jendela yang terlihat dari depan gerbang.

“Ayunda. Ini aku Irman Yun”, teriakku dari luar berharap Ayunda mendengarku.

“Mas, ini rumah orang, jangan teriak-teriak! Nanti saya panggil warga kalau Mas teriak terus”, bentak satpan itu.

Aku tak menghiraukan dan tetap memanggil Ayunda. Sampai seorang lelaki paruh baya yang tak lain Ayah Ayunda keluar dari dalam rumah.

“Ada apa ini berisik sekali?”

“Maaf pak, saya cuma pengen ketemu sama Ayunda, sebentar saja!”, kataku memohon kepada ayah Ayunda.

“Sudah Kamu pulang saja. Ayunda tidak bisa menemui siapapun sampai minggu depan”, jelas Ayah Ayunda dengan nada sedikit tinggi.

Kemudian ayah Ayundapun bergegas masuk kerumah itu lagi. Sementara aku berjalan lunglai menuju motorku.

Aku benar-benar kehilangan segalanya

 

“Man, Irman. Ayo bangun! Cepat siap – siap ! Ayahmu sudah mengunggu”, teriak mamaku dari depan pintu kamarku.

Aku buka pintu kamar dan melihat mama masih di depan pintu.

“Mau kemana sih Ma?”, tanyaku malas.

“Bukannya dari pagi Mama sudah kasih tau kita ada acara keluarga malam ini”

“Tapi Ma”

“Udah gak pakai tapi-tapian. Sana siap-siap! Ayahmu sudah nunggu lama”

“Aku mau datang di acara tunangan temenku Ma”

“Loh gimana sih? Ya sudah nanti Kamu nyusul. Mama sama Ayah mau pergi duluan”

“Iya iya kalo sempet nanti ya”

Hari yang mengacaukanku akhirnya datang juga. Hari dimana Ayunda akan bertunangan. Aku merasa kehilangan semua cintaku. Bagaimanapun aku harus membiarkannya bahagia. Mulai kupersiapkan mental dan menata kembali hatiku yang hancur. Aku telah membeli hadiah kalung cantik yang dulu pernah dia inginkan, waktu itu aku belum bisa membelikannya.

semoga kalung ini menjadi bukti bahwa kaulah yang terindah di hidupku

Awalnya aku berfikir untuk tetap di rumah dan berusaha untuk melupakan Ayunda. Tapi aku ikir dia adalah sahabat terbaikku terlebih aku sangat mencintai dia.

Malam itu, rumah Ayunda begitu ramai dengan tamu. Terlihat beberapa teman SMA ku menghadiri acara itu. Aku melangkah memasuki ruangan tempat acara petunangan yang telah disiapkan. Banyak kursi yang telah ditata. Aku menuju kursi di pojok ruangan ini. Acarapun dimulai tak lama setelah aku duduk.

“Hadirin sekalian. Terima kasih atas kehadiran Anda semuanya di sini” semua orang kini mulai terdiam dan memperhatikan mc acara malam ini.

Bla..bla..bla… Entah apa saja yang dia ucapkan, karena aku tak ingin memerhatikannya.

“Dan inilah calon mempelai putrinya, nona Ayunda”

Terlihat Ayunda turun dari lantai dua menuju ruang tengah denga diikuti kedua orang tuanya. Dia nampak cantik sekali malam ini aku sangat terkagum memandanginya.

“Dan utuk calon mempelai prianya. Hemm… Maaf kelihatannya mempelai priannya belum hadir, kita tunggu beberapa saat lagi”, kata MC tersebut dengan sedikit kebingungan.

Seluruh tamu yang hadir sepertinya penasaran dengan mempelai prianya. Aku jutru gelisah. Cukup lama menunggu, akhirnya si MC akhirnya tidak sabar.

“Maaf Bu. Coba ditelfon. Siapa tau dia tersesat”, terdengar semua orang.

Suasana menjadi sedikit tegang dan sunyi setelah MC tersebut meminta menghubingi calon mempelai pria.

Tiba – tiba terdengar bunyi Hpku.

“na na na na na”

Spontan semua yang hadir mencari sumber suara tersebut. Beberapa orang memandangiku.Aku lupa tidak mematikan suaranya. Aku binggung dan lupa cara mematikan suara hp ini, ah aku merasa kesal, tegang, bingung, malu bercampur menjadi satu. Setelah bisa kumatikan hp itu, tanpa ku duga Ayunda, ayahnya dan ibunya kini berdiri dihadapanku, sedikit bingung dan malu, aku coba mengangkat kepalaku, bukannya marah mereka malah tersenyum.

“Ini calon mempelai prianya”, teriak Mama Ayunda memperkenalkan kepada para tamu.

Aku terkaget bukan main dan terjatuh di depan kursi yang aku duduki tadi.

“Eh anak nakal dicariin kemana saja?”, terdengar suara yang tak asing lagi.

“Mama.. Mama kenapa ada disini?”, akupun masih terkejut melihat Ayahku juga hadir.

“Sebenarnya apa yang terjadi disini?” Ayunda mendekatiku dan membantuku berdiri.

“Yang sebenarnya adalah”, mama menjelaskan panjang lebar, yang sebenarnya terjadi adalah aku dan Ayunda sudah di jodohkan sejak kami masih sma dulu, sebenarnya Ayunda adalah putri dari Om Rio teman Mamaku, dan masih keponakan tante Ira pemilik butik langganan Mama, saat Om Rio datang kerumahku dulu, sebenarnya saat itulah perjodohan itu di mulai, tapi aku dan Ayunda tidak ada yang tahu akan hal itu. Aku sekelas dengan Ayunda juga telah diatur oleh mereka. Orang tuaku dan orang tua Ayunda menginginkan aku dan Ayunda menjalin hubungan bukan karena paksaan. Dan ternyata mereka berhasil. Aku mencintai Ayunda memang karena aku cinta. Awalnya saat tahu perjodohan itu Ayunda langsung menolak, tapi ketika tahu akulah yang menjadi jodohnya, iya malah bersemangat membantu mereka, dan akulah satu-satunya orang yang tidak tahu akan perjodohan ini. Termasuk pak Budiman pemilik kedai tea, cerita dia tentang Ayunda itu sengaja dibuat-buat atas kesepakatan dia denga Ayunda.

Mengetahui hal ini. Perasaanku jadi tidak karuan. Aku sangat bahagia, tapi juga kesal. Kejutan yang benar – benar akan selalu terkenang sepanjang hidupku. Dan malam ini adalah malam dimana kami berdua akan resmi bertunangan. Gadis yang aku sayang, yang aku kagumi, kini akan menjadi miliku seutuhnya. Kupeluk erat tubuhnya. Ayunda menangis bahagia di pundakku, begitu juga aku. Semua orang bersorak kepada kami. Malam ini sungguh malam yang sangat indah untuk kami semua.

Setelah pertunangan malam itu, 2 bulan setelahnya kami melangsungkan pernikahan. Beberapa cerita barupun telah kami mulai.
~~~~END~~~~
Editor
Wagia

Renny Wagia

Renny Wagia

Renny Wagia | Blogger | Penulis | Desainer Grafis | Editor | WA +6285736759883
info lengkap →

1 comment:
Write Comment

© 2014 theWagia. Designed by Blogger
Proudly Powered by Blogger.