Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

10 February 2017

Curhat saat kembali Pulang !!!

    8:03 PM   6 comments
Merantau pada akhirnya hanya menyisakan rindu pulang. Yaps, kata pulang ini bermakna sebuah rumah yang menjadi saksi bisu bertumbuh kembangnya kehidupan kita pada masa lalu, masa indah menjadi anak - anak.

Sebelumnya, setelah melihat beberapa postingan di blog theWagia ini kog melulu tentang curhatan. Entah apa yang membuat diri ini enggan menulis satu judul aja minimal tentang kampung halaman ( baca : Malang ).

Hemm... menyebut nama kota yang menyedihkan ini [baca lagi : Malang (makna konotasi)] sebenernya biasa saja, hanya saja perasaan itu muncul ketika kaki ini beranjak di sana. Namun, saat berada di kota lain, entah kenapa Malang selalu menjadi tujuan untuk pulang, menikmati masa berlibur bercengkerama dengan kelurag dan sahabat tercinta.

Sebagai seorang yang lahir di Bumi Arema [konon ini julukannya (ini serius)], kebanggaan menjadi warga asli baru berasa ketika saya berada di kota orang, ini menunjukkan bahwa saya masih tau diri menjadi orang perantauan yang ingat rumah ( hahaha...tolong jangan anggap serius).

Asal kalian tau, sebenarnya menjadi orang asli Malang justru saya ini gak tau banyak tentang kota Malang itu sendiri. Kalo mau ke Kota harus berkendara dulu hampir sejam dari rumah, itu juga mesti dianter sama saudara atau kalo ada temen yang mau ya sama temen.

Jujur saja sebagai orang Malang yang aku kenal juga cuma tau seglutek tentang Malang Selatan. Malang kota aja jarang di jamah, apa lagi daerah yang lainnya ( dasar kuper saya ini ). Sebenernya ini akibat menjadi perantau ( ah, aku hanya korban.. haha ...  biar mirip drama ala sinetron).

Dua bulan ini saya kembali ke kampung halaman setelah sekitar 3 tahun berada dan merasakan hingar bingar Ibukota negeri tercinta ini. Beberapa hari terakhir rasanya saya merindukan gemerlap kota Jakarta, namun setelah beberapa waktu lalu salah seorang teman dari Riau yang kenal di Jakarta datang ke kampung dan menghabiskan beberapa hari dengan dia dengan mengunjungi beberapa tempat wisata, membuat saya ingin sekali merasakan lebih banyak tempat yang belum saya kunjungi di Malang.

Kota Malang setiap harinya didatangi oleh orang - orang dari berbagi macam golongan, ras, dan suku bangsa. Membuat rasa bangga lahir di kota dingin ini semakin bertambah. Rasanya rinduku kembali ke Ibukota setidaknya telah terganti dengan kota Malang ini.

Rasanya menjadi member Malang Citizen bisa bakal banget membantu ya buat tau banyak tentang Malang yang mungkin gak banyak saya tau. #Semoga

14 January 2017

Untuk Darine dan Manar

    5:57 PM   No comments

Dear,
Darine Amire Ludza dan Manar Kauni Meditera

Assalamualaikum,
Buat Teteh dan Tera. Apa kabar kalian ketika membaca celotehan terketik dari tangan kak renny? Semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia ya. Aamiin Yaa Robb...

Teteh maaf sebelumnya ya, kak renny belum sempet nulis surat buat Teteh soalnya. Maaf ya kalo kamu harus nunggu dulu buat dapet surat dari kak renny. Tapi kak renny nulis ini semoga aja sedikit bisa mengganti (walaupun gak mungkin bisa) surat itu.

Ini sengaja ditulis sama kak renny, karena kak renny lagi rindu bercanda sama kalian nih. Kak renny sempetin bikin tulisan lewat blog karena ini sepertinya yang paling praktis buat dibaca dan gak bakal ilang. Kak renny berharap Teteh sama Tera mau balesnya lewat blog juga ya!

Oiya, kak renny belum banyak cerita tentang tempat kerja baru kak renny ke kalian. Alhamdullillah tempatnya enak, lingkungannya soalnya udah gak asing lagi, jadi ya nyaman-nyaman aja kerja disini. Walaupun kak renny kadang jarang pulang cepet. Hehe...

Oiya, jangan lupa ya nanti kalo selese baca ini, sun sayang buat kinanti diwakilkan Teteh ato Tera juga boleh. Salam juga buat Keenan sama Aal.

Kak renny lagi sedikit sibuk sebenarnya, tapi pengen banget bikin tulisan terus dibales sama teteh lewat blog juga .. Hehehe

Oiya, kak renny mau kalian kenal sama seseorang. Dia masih TK tapi lucu banget. Kalo teteh udah bikin balesan surat ini nanti kak renny ceritain tentang dia! Ok !

Udah disini dulu ya surat kak renny, ditunggu banget balesannya Teteh. Miss You.

Wassalamualaikum...

Salam Rindu dari Kak Renny
theWagia

18 September 2016

Diantara Angin dan Hujan

    9:30 PM   5 comments


Angin ini berlalu lalang tanpa kena macet
Sementara hujan membawa berkah sendiri
Tapi diantara angin dan hujan terdapat sebuah kegelisahan
Entah harus menangis seperti apa?
Atau berkeluh tanpa suara

Diantara angin dan hujan 
Aku hanya berpesan untuk kesahku yang tak terbendung
Kesahku yang tak mampu kusuarakan
Aku berpesan untuk waktu yang telah berlalu

Ini aku sedang bimbang
Ini aku tengah merasa sepi dengan ketidakhadiranmu

Diantara kesahku, Aku ingin bersuara pelan
Terimalah pesan bisuku ini
Sebuah isyarat yang akan kamu pahami nanti

Tolong jangan berkata apapun lagi!
Aku butuh kesunyian sekarang ini
Cukup berada disisiku 
sama-sama mendengar suara angin diantara dedaunan

13 September 2016

Hujannya Tuhan

    11:18 PM   No comments

Hujanmu berada pada satu tempat berbeda
Terserah tuhan karena memang itu kehendakNya
Tapi aku juga dengan keinginanku
Keinginanku adalah melepaskan kerinduanku

Bagaimana denganmu?
Aku disini tetap sendiri menantikan waktu
Waktu yang kau janjikan

Biarkan saja aku curhat pada hujan yang disini
Karena menunggu jawabanmu sepertinya rencana Tuhan
Biarkan Tuhan dengan keadilannya saja
Sementara kau dengan jawabanmu

Aku akan mengerti pada saatnya nanti
Biarkan hujan disini reda dengan sendirinya

-thewagia-
--Depok (2016)--

07 September 2016

Aku yang Menikmati Hidupku

    1:20 PM   8 comments

Setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda pada akhirnya. Dari apa yang diinginkan, yang diminati, dan juga dinikmatinya. Setiap orang dengan takdirnya masing - masing. 

Seperti diriku ini, berjalan sesuai dengan jalan yang telah digariskan kepadaku dari aku mulai terlahir di dunia ini. Pernah ada sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seseorang kepadaku. "Sebenarnya apa yang paling ingin kau usahakan dalam hidupmu?", tanyanya. 

Untuk menjawab pertanyaan ini tentunya aku harus berfikir sejenak, jangan sampai aku memberikan jawaban ngawur, karena pertanyaan temanku kali ini benar - benar serius. Sebelum aku menjawabnya, aku menceritakan sedikit banyak tentang yang selama ini aku lalui.

Aku ini pada waktu masih kecil memiliki cita-cita menjadi seorang pilot, entah kenapa cita - cita itu kenapa aku lupakan. Setelahnya aku mengganti cita- cita itu menjadi reporter. Ketika aku mulai kelas tiga SMP, aku justru sepemikiran dengan sahabatku untuk menjadi seorang akuntan, karena menghitung nominal bukan masalah bagiku. Akhirnya akupun setelah lulus SMP mendaftar pada sebuah SMEA Swasta yang ada di Kabupaten Malang.

Awalnya aku dan sahabatku telah sama mendaftar pada tempat yang sama dan mengambil program jurusan yang sama, yakni Akutansi. Tapi ternyata takdir jutru membawa kami masuk pada kelas baru yang di kenal dengan Broadcasting. Aku benar - benar merasa kecewa karena aku merasa harus mempelajari sesuatu yang akan menyulitkanku di masa depan.

Tapi ternyata memang itulah alur hidup yang membawaku sekarang ini. Aku rasa aku telah menemukan hasrat yang ku cari. Tetapi, ternyata tidak berhenti disitu, sekarang aku harus tetap mempellajari hal yang baru. 

Jika dulu aku harus berada pada sebiah pekerjaan yang memang sebenarnya cukup keren, sekarang jauh lebih keren lagi. Aku belajar nge-blog. Sejujurnya ketika aku berfikir tentang nge-blog, yang aku fikirkan adalah tentang bagaimana menulis. 

Aku merasa kurang terlalu bisa menuangkan tulisan cantik dan juga membuat pembaca tulisanku senang dengan hasilku menulis, termasuk tulisan ini. Jika kalian masih terus membacanya, aku sangat berterima kasih sekali kalian telah menikmati tulisan ini. 

Mendapat wejangan dari kakak sepupuku tentang nge-blog, akhirnya aku memutuskan untuk meneruskan belajar tentang hal ini. Dari dialah aku menyimpulkan, bahwa kebiasaan orang nge-blog dengan tulisan mungkin harus di modif dengan nge-blog bergambar. Ingat karena pada tulisan sebelumnya juga telah aku jelaskan aku lebih tertarik dengan seni rupa. 

Dari sedikit ulasan perjalannaku inilah, akhirnya aku menjawab pertanyaan yang diajukan temanku dengan berkata,"Dalam hidupku aku hanya menjalani takdirku, bagus sih orang terfokus pada satu hal. Tapi nyatanya, Tuhan memberiku kesempatan menempuh hal - hal lainnya. Aku cukup menikmatinya".

Mungkin kalian berfikir aku orang yang cukup pesimis, tapi aku menjalaninya dengan caraku. Mungkin dengan tulisan ini kalian yang penasaran kenapa nge-blog bisa membuatku tertarik. Kalian bisa baca artikel tentang Cara Membuat Website Sendiri. :) :) :)

06 June 2016

SAMBUT RAMADHAN ALA BOCAH

    12:26 AM   3 comments

Sebagai seorang pelajar SD sekaligus anak desa, mungkin Rival Sahrul Pranata yang lebih akrab dipanggil Ipal ini bersikap seperti kebanyakan anak di desanya dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebagai seorang anak yang mendapatkan ilmu dan pengalaman di tempat ia belajar baik di bangku sekolah maupun di tempat dia berlajar alqur'an, Ipal sangat antusias menyambut bulan ini. Dia dan teman - teman sebayanya menganggap momen ramadhan adalah moment di mana dia harus banyak berbuat kebaikan, dari menambah ibadah, membantu sesama hingga mengurangi waktu bermain yang hanya akan membuang waktunya.

Selama bulan puasa dia sangat menantikan waktu sahur. Kenapa? Apa karena sang Ibu akan menghadirkan masakan spesialnya? Ternyata bukan karena sang Ibu tercnta akan menyuguhkan menu masakan spesialnya, melainkan berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain musik sembari menglilingi kampung membangunkan orang - orang sahur. Dan kegiatan itu mereka sebut dengan patrol.


Dia masih anak-anak, tapi sangat menyambut baik bulan ini dengan degala kegiatan positif.

03 June 2016

Be Secret Admire

    12:36 AM   2 comments

Kalian pasti pernah mengalami menjadi seorang pemuja rahasia atau bahasa kerennya The Secret Admire (bahasa ingrisnya keleeesss). Bahkan diantara kalian pasti juga ada yang membanggakan diri memiliki pemuja rahasia, apalagi kalo tahu yang kagum itu cewek cantik atau cowok tampan (langsung deh mukanya noleh keatas, alias pasang gaya sombong tapi caper). Sebaliknya nih, kalo tahu yang jadi pengagumnya itu memiliki wajah gak menarik langsung deh pura – pura gak tau dan pura – pura gak  kenal.

Mungkin kalian juga pernah mengagum seseorang, hanya bisa kalian pendam perasaan itu dalam – dalam dan membiarkan orang yang kalian kagumi bersama orang lain yang dia sukai ternyata. Menerima dengan hati itu butuh pengorbanan yang gak bisa disepelekan lho.

Seorang pemuja rahasia, dia rela berbuat apapun untuk membantumu, terlebih jika kamu membutuhkan bantuannya. Meskipun kamu tidak merasakannya, dia selalu mendukung apapun kegiatan dan pendapatmu.


 Dia pemuja rahasia, meneruh rasa, tapi dia lebih memilih untuk menahan perasaannya dengan menjaga perasaanmu. Memeperhatikanmu dari jauh, akan membuatnya memiliki semangat hidup. Jangan mematahkan hatinya, karena itu akan membuatnya rapuh dan sangat rapuh. Dia mengenalmu lebih dan secara diam – diam tentunya. Bagaimanapun dia, cantik, tampan, jelek, hitam, putih, mereka memiliki semangat hdup dengan menjadi pengagum. 

05 May 2016

Surat Dari Sahabat

    1:05 AM   1 comment



Dear Renny

SobatQ yang tersayang,

Mengukir kenangan di dunia selama 23 tahun ini aku yakin kau isi dengan prestasi.impian dan mengajarkanku banyak hal...sekarang kau sudah dewasa. Kau sudah belajar banyak hal di dunia ini..dengan warna warna emas yang kau rajut.

Sahabat, selamat ulang tahun..aku panjatkan doa terbaik untukmu..ku harapkan semua yang terbaik untuk hidupmu...

Aku sadar saat ini kita berpisah jarak yang membuat kita jarang memberikan kabar seperti waktu kecil kita yang masih pandai bercetoleh dan banyak waktu untuk berbagi.. tapi percayalah sob..kamu adalah satu satunya sahabat yg mempercayaiku sejak kecil untuk belajar berbagi..terimakasih atas semuanya.

Sahabat, kini kita berjalan dengan alur yang berbeda,dengan rasa yang berbeda,dengan suhu yang berbeda dan dengan terik sinar mentari yang berbeda..namun kamu telah membuat ku percaya bahwa persahabatan tak hanya teman saat butuh, main bersama namun saat kita mampu berbagi.. berbagi perasaan kita..berbagi akan impian kita..dan kita percayain orang itu..

itu adalah sahabat...

Sahabat, aku rindukan masa dimana kita saling berbagi dan begitu dekat. Saat kita ceritakan semua yang terjadi pada pribadi kita. Pada perasaan kita. Namun itu bukan satu satunya makna sahabat..karena bagiku kamu adalah sahabatku tanpa syarat..

Sob, kalo dulu aku bisa mengucapkan selamat ulamg tahun dan bisa memberikan hadiah kecil walau tak mahal...namun itu tradisi yang selalu kita lakukaan waktu dulu..walau sekedar bando.jepit atau apalah yang pasti kita selalu bertukar hadiah.. Sekarang belum bisa lagi aku  lakukan. Maafkan aku ya sob. Jika dulu aku selalu memberimu capak dengan secarol kertas dengan tulisan terbaik..kini aku hanya mampu ucapkan lewat kalimat elektro yang tak manggambarkan betapa aku ingin mengukis hiasan indah di surat ini....

Sobat, aku selalu ingat FS DEG Damai Erat Gaul plus gerakan kita...itu adalah gerakan yang paling aku hapal sampek sekarang..aku merindukanmu sahabat. Rindu berbagi lebih deket lagi..

Sahabatku...bertambahlah kebahagiaan di usia dewasamu ini...aku selalu berdoa kau dalam kebaikan.kesehatan.kebahagian.keberkahan. Maafkan aku tak sesempurna itu sebagai sahabatmu

Sob, terima kasih sudah mewarnai hidupku.. terimakasih kau tetap menerima aku dengan ketulusanmu. Semoga aku akan terus menjadi bagianmu sahabat...



Dari Sahabatmu,
Irma
FS516

30 April 2016

Kenapa Kau begitu "GILA"?

    1:33 PM   No comments


Jika aku yang akan bertanya kepadamu makan satu pertanyaanku " kenapa kau begitu gila?"
mungkin ini sesuatu yang tak wajar, tapi percayalah hanya dirimu yang sanggung menjawab segala pertanyaan konyol itu. Kadang aku melihat kau begitu waras, tapi kini malah terlihat sebalknya. apa yang hendak kau lakukan dengan senyumanmu itu?

Hatimu itu perlu dipalu dan pihat agar terbentuk sebuah nurani yang menjelma baik dan bertumbuh menjadi akar - akar kebajikan.

Tapi sepertinya justru kau kau menanam duri yang kau siram dengan air keras pula. Inikah yang kau sebut adil?

Sungguh aku tak pernah bisa menggambarkan dirimu yang seperti rubah terserang virus mematikan. Seakan sekarat menjemput maut, tapi sebetulnya kau hanya ingin mengancam. Kenapa kau begtu gila?
Aku gagal memahamimu, kegagalanku ini sebuah ajaran hidup untuk senantiasa menentukan pilihanku bersamamu. Tapi kenapa kau begitu gila?

Genggaman tanganmu itu justru hanya sebuah rekayasa film yang diharapkan semua orang menjadi nyata dan mereka contoh. Malah sekrang kau asyik menebar ancaman kesemua orang dengan mulutmu yang manis itu. kenapa kau begitu gila?

Kepalamu itu hanya berisikan aliran darah yang hanya membuatmu bernafas normal. Tapi kepada batu kau hantarkan darah itu dan membuat kesaksian palsu seakan aku telah membuatmu berubah menjadi monster. Inikah balasannya?

Sekarang kau mulai tersenyum lagi menebar benih kepada semua orang. Berusaha mencuci tangan kotor yang telah menabar sejuta darah. Inilah yang kau sebut dengan memberikan kebaikan tak terbatas.

Kenapa justru aku menilai kau hanya membual. Setiap ucapanmu, tingkahmu hanya seakan membuat orang menjadi risau. Kehadiranmu justru mengurung segala keinginan terpendamku. Kenapa kau begitu gila?

Entah seperti apa yang seharusnya aku katakan padamu. Untuk meyakinakanmu agar kau mau berjalan lebih lurus dari yang sekarang ?



24 April 2016

Goresanku

    5:44 PM   2 comments


Ketika kita berfikir, tak ada sesuatu yang lebih penting dari sebuah hubungan. Mungkin sebenarnya kita tidak mengakhirinya. Hanya saja kita membuat cerita itu memiliki alur berbeda.

Hubungan dua orang berlawanan jenis mungkin akan sangat sensitif untuk dibicarakan. Tapi bagiku ini merupakan sebuah pelajaran hidup.

Menjalin hubungan dengan orang lain itu bukanlah merupakan hal yang sangat mudah. Tentu saja kita selalu ingin menjalani kisah yang bahagia. Tapi kepahitan dari kisah itu sendiri merupakan hal yang berharga yang seharusnya kita dapatkan.

Ketika kita menyerah untuk melakukan sesuatu, mungkin sebenarnya bukanlah mengakhiri segalanya. Hanya saja jiwa ini ingin berhenti sejenak. Bukan berarti kita ingin berhenti seterusnya. karena waktu akan selalu harus kita kejar.

Hubunganku denganmu adalah sebuah cerita. Cerita yang tidak akan terhapus. Aku tidak berusaha mengenangnya. tetapi percayalah. Kau ceritamu akan lebih indah nanti. Karena aku juga ingin menulis ceritaku tanpa dirimu.

by :theWagia

21 April 2016

Perjalananku menuju Fajar

    11:55 PM   No comments
Perjalanan memang tidak selalu indah. Terlebih jika dimalam hari dan melewati pinggiran hutan. Tetapi jika kita tak berpitus asa melewati malam panjang, pasti akan tertampak keindahan mentari pagi dari ufuk timur. Sinar kemerahannya yang tak menyilaukan mata. Seakan memberikan perngaharapan di malam hari.
Tapi ini tidak seperti perjalanan ketika kau bersamaku.

Ketika aku mengawali semuanya dipagi hari. Justru kegelapan mengakhirinya. Itupun mengajarkanku untuk tidak haris bertahan denganmu tanpa bisa melewati malam. Rasa cemas saat gelap masih dalam perjalanannya. Justru kau mengajarlan untuk tetap tinggal tanpa aku haris belajar bersabar. Kini aku sudah menikmati perjalanan malamku.

Tapi percayalah seseorang di tepi pantai telah menunggu kedatangan fajar yang menjemputku. Dan aku yakin kaupun memeliki cerita yang pantas untuk kau jalani.

Setiap apa yang kau lewati terpetik sebuah pengalaman yang menjadikan hidupku selalu lebih baik Aku berusaha memafkan diriku sendiri. Meskipun aku tak pernah tau seperti apa pengampunan Tuhan. Aku berharap suatu saat nanti, kau akan memberiku cerita tentang kebaikanmu dari orang lain. Semoga !!!

20 April 2016

Dulu dan Kini

    12:01 AM   No comments
By : Bayu Fajar

Pagi bersambut pagi, yang kudapat hanya letih
berbeda dengan dulu, saat aku masih mendengar langkah dan suaramu
dulu yang kurasa, bahagia tanpa ada jeda
dulu yang terasa, hanya tatapan nan indah
tanpa kau rasa, kau menjadi bagian dari semangatku
menatapmu, menjadikan energi baru
siap menantang hari yang mungkin akan terasa pilu

Kini, Kau hilang
benar-benar hilang sampai tak bisa ku terawang
meluluh lantakan rasa yang kusimpan dalam angan
kucoba menjadikanmu lukisan
sehingga jika ku lelah
akan ku tatap kau berjam-jam
hingga akupun akan tetap bertahan
meskipun pedih ini terus menghujam

19 April 2016

Adakah Salah yang ku lakukan ?

    11:53 PM   No comments


by : Bayu Fajar

Adakah salah yang ku lakukan ?
Binar matamu memancarkan cahaya beda
Tak bisa kurasa rasa yang sama
Menerangkan bahwa semua berubah
Dan sungguh sangat menyiksa

Adakah salah yang ku lakukan ?
Kupajang  gambar senyumu di dinding ruangku
Meminta Tuhan agar kita selalu bersatu
Tanpa batas jarak dan waktu
Namun semua memudar semu

Adakah salah yang ku lakukan ?
Kutembus malam yang menusuk dalam
Hanya berusaha melawan kelam
Aku hanya seorang adam
Hawa, tak kusangka kau begitu kejam

Illustrasi

17 April 2016

Jeritan Malam

    6:48 PM   No comments

ketika purnama
Semua kata menyerupai peluh
Waktu tertawa karenanya
Semua kini hanya bersisa
Jeritanmu itu tiada arti…
Seseorang telah memberikan sepatah ungkapan
Tapi ternyata kau malah mengacuhkannya
Hati nuranimu sendiri ternyata tak sanggup menerimanya
Semua menunjuk kearah dia
Apakah dia tertawa, atau justru menangis
Sungguh hanya sebuah jeritan tak bermakna
Ini adalah sebuah penyesalan
Penyesalan sepanjang hidup
Saat aku harus mendapati kesalahan keputusan yang tak berarti
Apa aku harus menyalahkan dia yang terlanjur menjadi bagian dari kisah
Seperti seekor keong yang kehilangan cangkangnya
Seperti keong yang berusaha mencari cangkang yang lainnya

Write & Editor
WAGIA

Ketika Itu

    6:26 PM   No comments
Seorang kekasih yang dia sayangi
Tertidur tak bergerak di pangkuannya
Airmata yang mengalir
Tak dapat lagi membangunkannya
Teriakannya pun sudah tak dapat di dengar lagi
Gadis itu…
Dia hanya sendiri memeluk kekasihnya yang tak bergerak
Sinar mentari pagi yang kini mulai memasuki celah-celah kegelapan
Cahayanya yang hangat membuat hatinya semakin sakit
Apa yang sebenarnya terjadi?
Suara detak jantung itu
Perlahan-lahan mulai kembali
Hangat nafas kini mulai terasa
“Jangan menangis! aku tak akan pergi.”
Suara itu
memecah keheningan yang ada
Air matanya yang mengalir semakin deras membasahi kedua pipi
Perasaan bercampur aduk
Sedih
Senang
Bahagia
Dia tersenyum lebar
Senyumnya mengembang seiring datangnya pagi
Hangat pelukannya sehangat sinar mentari pagi
Burung-burung yang berkicau
Bunga-bunga yang mulai bermekaran
Seakan merasakan kebahagiaan Gadis itu
Mereka menari-nari di atasnya
Menyambut hangatnya kasih sayang di antara kedua kekasih ini


Write by                                         Editor by
Bagus H.                                       Wagia

Aroma Teh Yang Sedap

    5:46 PM   1 comment





illustrasi
Ide Cerita & Penulis  BAGUS H
“Kkringggg…. Kringg….” ,bunyi jam terdengar keras.

“Ah kenapa sudah pagi? Padahal aku belum sempat tidur. Lagi-lagi begini? Hmm…tiap malam tidak pernah tidur gara-gara lembur kerjaan.”

Aku Irman. Aku bekerja di perusahaan periklanan. Jadi sana sini pasti di kejar dead line, ini sudah 5th sejak aku lulus sma dulu. Beberapa bulan lalu aku diterima di kantor priklanan baru. Tapi sekarang hari-hariku mulai sibuk, banyak hal yang aku kerjakan di kantor baruku ini. Mungkin dulu aku memang sulit untuk menjalin pertemenan dengan anak – anak sebayaku, tapi berbeda sekarang, satu kantor udah kayak keluargaku sendiri.

“ Man… Bangun! Udah siang nanti telat kerja kamu”, panggil Mamaku.

“ Iya Ma. Ini baru mandi”, sahutku. “ titit… titit…”, bunyi sms d hp ku.

Bos kerjaannya di tunggu di kantor jam 7.30 pagi ini

” Aduh telat nih. Udah jam 7 lagi”, segera aku bergegas ke kantor.

“ Loh… hee makan dulu jangan pergi dulu!”

” Telat Ma…”

” Ehh , ni anak… Makan rotinya aja! Tu teanya juga habisin!”

Aku sudah tidak ingin mendengarkan ucapan Mama. Aku melaju ke kantor dengan kecepatan penuh. Sesampainya aku di depan kantor, si Andi temenku yang sudah menunggu.

“Gimana kerjaannya? udah?”

“Iya ini sudah, tinggal revisi dikit-dikit”

“Bagus Loe memang bisa diandelin”

“Gila Loe. Tiap hari gue disuruh lembur”

“Iya maaf, hehe”

Dan sebenarnya yang aku lemburin bukan kerjaanku. Ya si Andi ini temen sekantor yang sering meminta pertolongan untuk menyelesaikan tugasnya,apalagi jika dia sibuk kencan dengan pacarnya. Karena aku sedang free (dari sebuah hubungan) ya aku mau mau aja. Sediki cerita ,aku sih udah nyari, tapi emang belum ada yang cocok.

“ Eh ini yang perlu di refisi yang mana?”, tanya Andi kebingungan.

“ Itu, Ndi. Slide kedua dan kelima. Bingung mau diisi apa lagi? Loe isi sendiri ya Ndi!”

“ Man dipanggi bu Ani!”, tiba-tiba ada suara wanita setengah baya menegurku. Dia mbak Erna, sekretaris bu Ani bos di kantor ini. Aku menolah reflek kearah sumber suara dan ternyata mbak Erna di belakangku.

“ Kenapa Mbak? “

“ Wah, Gue juga gak tau tuh. Loe samperin dulu gih!”

Aku berjalan memasuki kantor dan menuju ruangan bu Ani. Sesampainya di depan ruangan, aku mengetuk pintu perlahan.

“Tok… Tok… Tok..”, lalu kubuka pelan pintu ruangan bu Ani.

“Permisi Bu. Ibu memanggil saya kata mbak Erna?“

“Iya Man.. Silahkan duduk dulu!”

Akupun tersenyum. Tapi perasaanku sedikit tegang. Bu Ani melanjutkan pembicaraan.

“Man makasih ya buat bantuan kamu kemaren.Duh..kalau gak ada kamu gak tau bakalan gimana?”

“Oh iya Bu. Sama-sama”,kemudian aku tersenyum dengan perasaan lega.

Jadi cerita malam itu kebetulan aku lewat jalan yang sama dengan bu Ani, gak tau kenapa mobil bu Ani mogok di tengah perjalanan. Aku yang waku itu sedang jalan menuju tempat penjual nasi gorang langgananku mendapati bu Ani yang terlihat kebingungan sendiri. Untungnya aku punya kenalan temen yang punya bengkel dan bisa aku panggil jam 11 malam buat benerin mobil mogok.

Sekitar 10 menit aku ngobrol sama bu Ani. Lalu aku bergegas dari tempat duduk dan ijin keluar ruangan karena harus menyelesaikan pekerjaanku.

“Ya sudah Bu, saya mau kembali ke meja kerja dulu kalau begitu”

“Iya Man. Makasih ya sekali lagi”, bu Ani sambil mengangkat telepon di sampingnya yang berbunyi barusan.

Hari sudah mulai sore. Aku merasa sedikit lebih lelah dari biasanya. Jadi aku putuskan untuk menyelesaikan kerjaan lebih cepat, dan kemudian aku bisa pulang lebih awal. Ini diperblehkan di perusahaan tempat kerjaku. Asal sesuai target.

“Loh, mau kemana Man?”, Sapa temanku.

“Mau puluang”

“Emang kerjaan dah kelar? Ini masih sore. Buru-buru amat?”,kata mereka.

“Iya udah kelar semua. Gara- gara Andi nih. Gue jadi ngantuk gak tidur semalem”, jawabku sambil berjalan menuju keluar ruangan.

“Hati – hati Man! Moga-moga ketemu jodoh di jalan. Haha”, ledek salah seorang dari mereka

“Iya sip…”, jawabku dengan cuek.

Ditengah perlananan menuju rumah. Aku putuskan untuk mampir di salah satu kedai minuman yang sudah menjadi langganan sejak aku SMA. Mobil aku parkir diselah kanan kedai berjajar dengan mobil lainnya. Maklum kedai ini memang cukup laris,karena tempatnya yang nyaman dan harganya relati murah tapi gak kampungan. Aku keluar dari mobil dan menuju kedalam kedai. Saat tiba di pintu masuk tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis seumuranku yang berjalan berlawanan arah denganku dan sedikit tergesa-gesa.

“Aw…”,teriak gadis itu, mungkin dia kesakitan.

“Eh maaf. Aku gak sengaja” , kataku sedikit panik dan membantunya mengumpulkan barang – barang yang keluar dari tas yang terjatuh dibawanya tadi.

“Gak papa kog”, jawab Dia sambil memperhatikanku. Aku tak begitu memerhatikan wajah Gadis itu. Dengan sedikit menunduk, akupun melanjutkan langkah memasuki kedai.

“Eh, Mas”, panggil Gadis itu.

Akupun menoleh dan berhenti . Dia hanya tersenyum sekejap dan kemudian memalingkan wajah dan berlalu pergi. Belum sempat aku melihat wajahnya, dengan heran kemudian aku melanjutkan langkah menuju bar tempat memesan minuman favoritku.

Kenapa Dia?

Setelah memesan aku duduk disalah satu meja dekat dengan cendela dengan pemandangan taman sekitar kedai. Akhirnya pesananku tiba. Tea susu yang biasanya aku pesan. Aku meminunnya selagi masih panas. Karena itu bagian favoritku. Sedikit aku seduh dan menaruh gelasnya di tatakan di atas meja. Aku memandangi sekitarku dan juga taman di luar kedai itu.Aku memikirkan seorang gadis yang tersenyum padaku tadi. Sosok yang sepertinya aku kenal. Tapi entahlah, aku berusaha melupakan hal itu. Datang seseraong menhampiriku dan memecahkan lamunanku.

“Mas Irman. Sudah lama to duduk sini Mas?”, ternyata Pak Budiman, pemilik kedai yang memang sudah mengenakku dengan baik.

“Pak Budi. Kaget saya Pak. Hehe… Barusan duduk kog ini”, jawabku.

“kedainya makin lama makin ramai ini Pak”, Lanjutku.

Pak Budi sambil duduk di depan ku.

“Alhamdulillah mas. Inikan, berkat bantuan Mas juga, karena setia jadi langggana kami”

“Pak Budi ini bisa aja”

“Mas Irman liat cewek yang pake merah muda tadi gak? Yang duduk di sebelah situ?”, tanya pak Budi sambil menujuk salah satu meja kosong di belakangku.

“Ah nggak pak, Saya gak ngeliat siapa siapa tadi. Emangnya kenapa Pak?”

Pak Budiman jutru tersenyum sambil menjawab.

“Loh, kog gak tau? Itu ceweik yang duduk sebelah situ llo. Itu ceweknya Mas Irman yang dulu sering diajak kesini”, jelas pak Budi.

Aku sedikit terkejut mendengar pernyataan pak Budi.

Jangan-jangan cewek yang tadi

Kemudian aku tersenyum.

“Loh, mas Irman malah senyum – senyum sendiri to?”

” Ah iya Pak tadi tu saya menabrak seorang cewek di depan situ. Bajunya juga warna merah muda”,
kataku menjelaskan sambil menujuk tempat kejadian aku menabrak seorang gadis tadi.

“Saya gak begitu merhatiin wajahnya tadi. Gak sempet.”

“Wah gitu”, kemudian pak Budiman berdiri dari tempat duduknya.

“Eh ya sudah saya tinggal dulu Mas”,

“oh, iya Pak”, pak Budimanpun meninggalkanku.

Sepertinya dia sedikit berbeda
Apa benar Dia sudah kembali
Nanti sajalah, akan kutemui

Aku terbangun dari tidurku. Gak terasa sudah akhir pekan. Hari bebas dari kantor dan aku bebas melakukan aktifitas santaiku.

“Asyik libur… Hari ini kemana ya?”, kataku pada diriku sendiri, sambil bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.

Setelah lama berfikir di kamar mandi, aku putuskan untuk pergi ketaman kota.

Pagi itu aku berjalan sendiri di tengah taman Kota yang sejuk dengan bunga – bunga dan pepohonan. Kupasang headset di telingaku. Tampak taman ini juga dikunjungi muda- mudi yang asyik bercengkama sambil berfoto bersama, anak –anak kecil yang tengah menikmati permainan yang ada di sekitar taman, serta orang dewasa yang berjalan – jalan menikmati sejuknya taman. Akupun terus berjalan dengan santai, kemudian langkahku terhenti di bawah pohon besar nan rindang di tengah taman. Lalu aku duduk dan bersandar di bawah pohon dengan mendengatkan lagu untuk menenangkan pikiran. Lantunan musik dengan irama jass membuat mataku terpejam. Tiba – tiba ada suara seseorang tertawa kecil, aku acuhkan. Namun,tiba – tiba terdengar lagi, mataku masih terpejam. Ketika ku buka mata.

“Uwaaaaaaa”, tanpa sengaja kubenturkan kepalaku kebelakang dan kemudia beradu dengan badan pohon.

“dug”, sauaranya sedikit keras.

“Aduh”, aku mengeluh kecil.

Seorang gadis di depan mataku. Dia justru tertawa dengan kejadian yang aku alami. Lalu dia duduk bersila di depanku. Sambil mengelus – elus kepala aku mendangi gadis yang menertawaiku itu. Lalu aku malah ikutan tertawa. Akupun berdiri dia mengikutiku berdiri. Aku langsung memeluknya dan dia masih tertawa. Cukup lama aku memeluk dia.

“Hee.. Mau sampai kapan Kamu peluk aku?”, protes dia setelah berhenti tertawa.

Belum sempat aku melepas pelukan, kulontarkan beberapa pertanyaan kepada gadis itu.

“Ayunda, bagaimana kabarmu? Sejak kapan kamu ada disini? Kog bisa tiba-tiba di sini sih? ”,tanyaku dengan nada khawatir bahagia.

“Yah sudah cukup lama untuk memperhatikan wajahmu itu, sudah lepaskan dulu! Malu diliat orang tuh.”

“Kamu kapan pulangnya sih?”,tanyaku yang belum hilang rasa bahagiaku bertemu dengan Ayunda. Sambil duduk Ayunda menjawab pertanyaanku.

“Aku sudah lebih dari seminggu di rumah. Aku nyariin kamu terus. Tapi Kamunya ternyata sibuk terus”, dengan nada sedikit protes.

“Iya nih. Aku sibuk emang. Apalagi akhir-akhir ini. Jadi kemarin yang di kedai beneran Kamu?”

“Hehe iya”, dia menjawab singkat.

“Seneng banget rasanya bisa lihat kamu di sana?”,tambahnya.

“Iya aku selalu kekedai tea itu jika aku merindukan seseorang”,godaku.

“Hemmm… Bisa saja kamu? Kangen ya ma aku?”

“Eits,bukan Kamu kali, GR kamu ih”, sahutku

“Ih hayo sapa itu?” Tanyanya dengan sedikit kesal.

“Hehe ada deh pokoknya”, godaku.

“Huft… Kamu tuh gak berubah ya?”, sambil menggeser tubuhnya dan bersandar di pundakku.

“Minggu depan kerumah ya! Ada acara di rumah? Kamu harus datang!”, lanjut Ayunda.

“Wah ada acara apa nih? Kamu mau nikah ya?”, godaku.

“Emm mungkin”, jawabnyasambil berdiri dan kemudian berjalan pergi hendak meninggalkan aku yang masih duduk bersandar di pohon.

Lalu aku berdiri.

“Eh beneran kamu mau nikah?”

Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.

Entah kenapa rasanya aku menyesal bercanda dengan perkataanku tadi. Tiba-tiba saja janungku enggan berdetak sambil bertanya – tanya sebenarnya apakah benar Ayunda akan menikah? Padahal hari ini aku sangat senang karena aku telahbetemu lagi dengan gadis yang selam ini aku nanti. Namun, pertemuanku ini menjadi sangat buruk karena ku fikir dia akan menjadi milik orang lain. Aku berjalan pulang dengan langkah tak bersemangat. Sesampainya di rumah tak ada yang dapat aku lakukan. Aku terus memikirkan Ayunda yang akan menjadi milik prang lain. Cinta yang kusimpan bertahun-tahun lamanya kini lenyap tak tersisa.

Keesokan hari, aku masih tak berdaya. Berangkat kekantor pun serasa menjalani hal yang sangat berat. Siang harinya aku ijin untuk pulang lebih cepat dengan lasan kurang sehat karena takut malah mengacaukan semuanya. Dalam perlajanan pulang, aku putuskan untuk mampir ke kedai tea.

Aku memesan tea susu, aroma tea yang sedap sedikit menghilangkan penat dalam fikiranku.

“Mas Irman, wajahnya kok murung mas?”,sapa pemilik kedai.

“Eh Bapak. Iya nih Pak, lagi banyak fikiran saya.”

“Loh mau nikah masih mikirin apalagi to Mas Irman ini?”

“Pak Budi ini ? Siapa yang mau nikah? Ada-ada saja Bapak ini.”

“lo bukanya Mas Irman yang mau nikah sama mbak Ayunda?”

“Bapak dapat info dari mana?”

Lalu Pak Budi bercerita banyak padaku. Sebenarnyabeberapa bulan yang lalu, Pak Budiman menjamu tamu khusus atau bisa dibilang tamu itu adalah orang tua Ayunda. Orang tua Ayunda datang dengan kerabatnya dan membicarakan tentang perjodohan Ayunda dengan seorang pria, yang telah menjadi pilihan orangtuanya. Mendengar cerita tersebut, akupun terkejut. Tubuhku rasanya panas dingin. Dada serasa sesak bukan main. Terlebih Pak Budiman mengatakan mendapat undangan khusus dari orang tua Ayunda.

“Saya berharap mempelainya nanti itu Mas Irman”, kata Pak Budi melanjutkan pembicaraanya.

“Setiap mbak Ayunda datang. Dia juga ngobrol dengan saya. Katanya dia sebenarnya menolak dengan perjodohan itu. Tapi demi keluarganya mau tidak mau dia harus mau, kelihatanya mbak Ayunda juga sedikit tertekan seperti Mas Irman. Tapi dibalik kesedihannya dia tersenyum. Dia juga bilang kalau dia mampu bertahan karena semangat yang diberikan Mas Irman dulu”, tambah Pak Budiman.

Fikiranku semakin kacau. Entah apa yang harus aku lakukan. Sempat terfikir melakukan perbuatan nekat. Tapi aku tak ingin membuat Ayunda kecewa. Rasanya aku ingin meninggalkan kehidupanku saat ini tapi keraguan, kecemasan, dan rasa menyesalku beradu menjadi satu.

Dua hari sudah aku melewati hariku dengan perasaan kacau. Bahkan selama dua hari aku tidak masuk kerja dan hany berdiam di kamar. Aku hanya berharap sebuah keajaiban datang. Dua hari lagi, gadis pujaanku akan bertunangan. Melihat keadaanku, keluagaku cemas dan mencoba menghiburku. Aku melihat jam masih pukul setengah tuju sore, aku ambil jaket dan kunci motorku, aku pacu secepat mungkin menuju rumah Ayunda, aku ingin mendapatkan penjelasan dari dia, aku tak perduli dengan segala hal yang akan terjadi padaku. Dalam fikirku, aku hanya ingin berbicara dengan Ayunda dan mendapat penjelasan dari dia.

Dan akhirnya aku sampai di depan gerbang pintu rumah Ayunda.

“Selamat malam pak. Ayundanya ada?”, sapaku kepada seorang satpam penjaga rumah.

“Maaf Mas. Mbaknya lagi gak ada”, jawabnya dengan agak sinis.

“Loh tapi mobil dia ada itu Pak”, sambil kutunjuk sebuah mobil yang diarkir depan pintu di halaman teras.

“Kog ngeyel ya dikasih tau. Dibilang gak ada ya gak ada”, tegas satpat tersebut menegurku dengan nada tinggi.

“Pak, saya nanya baik-baik. Jangan kayak gitu dong jawabnya!”, kataku kesal.

Tanpa sengaja aku melihat ayangan Ayunda melintasi jendela yang terlihat dari depan gerbang.

“Ayunda. Ini aku Irman Yun”, teriakku dari luar berharap Ayunda mendengarku.

“Mas, ini rumah orang, jangan teriak-teriak! Nanti saya panggil warga kalau Mas teriak terus”, bentak satpan itu.

Aku tak menghiraukan dan tetap memanggil Ayunda. Sampai seorang lelaki paruh baya yang tak lain Ayah Ayunda keluar dari dalam rumah.

“Ada apa ini berisik sekali?”

“Maaf pak, saya cuma pengen ketemu sama Ayunda, sebentar saja!”, kataku memohon kepada ayah Ayunda.

“Sudah Kamu pulang saja. Ayunda tidak bisa menemui siapapun sampai minggu depan”, jelas Ayah Ayunda dengan nada sedikit tinggi.

Kemudian ayah Ayundapun bergegas masuk kerumah itu lagi. Sementara aku berjalan lunglai menuju motorku.

Aku benar-benar kehilangan segalanya

 

“Man, Irman. Ayo bangun! Cepat siap – siap ! Ayahmu sudah mengunggu”, teriak mamaku dari depan pintu kamarku.

Aku buka pintu kamar dan melihat mama masih di depan pintu.

“Mau kemana sih Ma?”, tanyaku malas.

“Bukannya dari pagi Mama sudah kasih tau kita ada acara keluarga malam ini”

“Tapi Ma”

“Udah gak pakai tapi-tapian. Sana siap-siap! Ayahmu sudah nunggu lama”

“Aku mau datang di acara tunangan temenku Ma”

“Loh gimana sih? Ya sudah nanti Kamu nyusul. Mama sama Ayah mau pergi duluan”

“Iya iya kalo sempet nanti ya”

Hari yang mengacaukanku akhirnya datang juga. Hari dimana Ayunda akan bertunangan. Aku merasa kehilangan semua cintaku. Bagaimanapun aku harus membiarkannya bahagia. Mulai kupersiapkan mental dan menata kembali hatiku yang hancur. Aku telah membeli hadiah kalung cantik yang dulu pernah dia inginkan, waktu itu aku belum bisa membelikannya.

semoga kalung ini menjadi bukti bahwa kaulah yang terindah di hidupku

Awalnya aku berfikir untuk tetap di rumah dan berusaha untuk melupakan Ayunda. Tapi aku ikir dia adalah sahabat terbaikku terlebih aku sangat mencintai dia.

Malam itu, rumah Ayunda begitu ramai dengan tamu. Terlihat beberapa teman SMA ku menghadiri acara itu. Aku melangkah memasuki ruangan tempat acara petunangan yang telah disiapkan. Banyak kursi yang telah ditata. Aku menuju kursi di pojok ruangan ini. Acarapun dimulai tak lama setelah aku duduk.

“Hadirin sekalian. Terima kasih atas kehadiran Anda semuanya di sini” semua orang kini mulai terdiam dan memperhatikan mc acara malam ini.

Bla..bla..bla… Entah apa saja yang dia ucapkan, karena aku tak ingin memerhatikannya.

“Dan inilah calon mempelai putrinya, nona Ayunda”

Terlihat Ayunda turun dari lantai dua menuju ruang tengah denga diikuti kedua orang tuanya. Dia nampak cantik sekali malam ini aku sangat terkagum memandanginya.

“Dan utuk calon mempelai prianya. Hemm… Maaf kelihatannya mempelai priannya belum hadir, kita tunggu beberapa saat lagi”, kata MC tersebut dengan sedikit kebingungan.

Seluruh tamu yang hadir sepertinya penasaran dengan mempelai prianya. Aku jutru gelisah. Cukup lama menunggu, akhirnya si MC akhirnya tidak sabar.

“Maaf Bu. Coba ditelfon. Siapa tau dia tersesat”, terdengar semua orang.

Suasana menjadi sedikit tegang dan sunyi setelah MC tersebut meminta menghubingi calon mempelai pria.

Tiba – tiba terdengar bunyi Hpku.

“na na na na na”

Spontan semua yang hadir mencari sumber suara tersebut. Beberapa orang memandangiku.Aku lupa tidak mematikan suaranya. Aku binggung dan lupa cara mematikan suara hp ini, ah aku merasa kesal, tegang, bingung, malu bercampur menjadi satu. Setelah bisa kumatikan hp itu, tanpa ku duga Ayunda, ayahnya dan ibunya kini berdiri dihadapanku, sedikit bingung dan malu, aku coba mengangkat kepalaku, bukannya marah mereka malah tersenyum.

“Ini calon mempelai prianya”, teriak Mama Ayunda memperkenalkan kepada para tamu.

Aku terkaget bukan main dan terjatuh di depan kursi yang aku duduki tadi.

“Eh anak nakal dicariin kemana saja?”, terdengar suara yang tak asing lagi.

“Mama.. Mama kenapa ada disini?”, akupun masih terkejut melihat Ayahku juga hadir.

“Sebenarnya apa yang terjadi disini?” Ayunda mendekatiku dan membantuku berdiri.

“Yang sebenarnya adalah”, mama menjelaskan panjang lebar, yang sebenarnya terjadi adalah aku dan Ayunda sudah di jodohkan sejak kami masih sma dulu, sebenarnya Ayunda adalah putri dari Om Rio teman Mamaku, dan masih keponakan tante Ira pemilik butik langganan Mama, saat Om Rio datang kerumahku dulu, sebenarnya saat itulah perjodohan itu di mulai, tapi aku dan Ayunda tidak ada yang tahu akan hal itu. Aku sekelas dengan Ayunda juga telah diatur oleh mereka. Orang tuaku dan orang tua Ayunda menginginkan aku dan Ayunda menjalin hubungan bukan karena paksaan. Dan ternyata mereka berhasil. Aku mencintai Ayunda memang karena aku cinta. Awalnya saat tahu perjodohan itu Ayunda langsung menolak, tapi ketika tahu akulah yang menjadi jodohnya, iya malah bersemangat membantu mereka, dan akulah satu-satunya orang yang tidak tahu akan perjodohan ini. Termasuk pak Budiman pemilik kedai tea, cerita dia tentang Ayunda itu sengaja dibuat-buat atas kesepakatan dia denga Ayunda.

Mengetahui hal ini. Perasaanku jadi tidak karuan. Aku sangat bahagia, tapi juga kesal. Kejutan yang benar – benar akan selalu terkenang sepanjang hidupku. Dan malam ini adalah malam dimana kami berdua akan resmi bertunangan. Gadis yang aku sayang, yang aku kagumi, kini akan menjadi miliku seutuhnya. Kupeluk erat tubuhnya. Ayunda menangis bahagia di pundakku, begitu juga aku. Semua orang bersorak kepada kami. Malam ini sungguh malam yang sangat indah untuk kami semua.

Setelah pertunangan malam itu, 2 bulan setelahnya kami melangsungkan pernikahan. Beberapa cerita barupun telah kami mulai.
~~~~END~~~~
Editor
Wagia

19 March 2014

Tentang Mimpi

    3:10 PM  

Semua orang punya mimpi kemudian mereka
berhayal dan merasa terbang bagai mimpi-mimpinya
( Wagia 2014)

Setiap orang berkeinginan mencapai sebuah maksud dan tujuan. Setiap tujuanpun terhubung dengan maksud tertentu. Jika dirangkai, semua hanyalah sebuah perjalanan hidup yang meninggalkan jejak. Dan jejak tersebut merupakan sebuah cerita. Isi daripada cerita sendiri setiap kali berbeda. Setiap waktu menyimpan sejuta kenangan yang tak sama. Namun, sisi yang sama hanya iktisar di dalamnya. Suka, duka, tawa, tangis, kesakitan, dan juga kebahagiaan. Setiap kejadian memberikan sebuah pengalaman besar dalam hidup.

Setiap duka akan dibayar dengan suka. Setiap Tangis akan dibayar dengan tawa. Dan setiap kesakitan akan terbayar dengan kebahagiaan. Setiap manusia pasti tujuannya adalah mencapai kebahagiaan. Namun, setiap kebahagiaan yang ingin dicapai senantiasa tak sama. Akal pikiran mereka yang bekerja membuat setiap orang pada jalannya masing-masing. Bukan lajur takdir yang mereka hadapi. Tapi sebuah pilihan yang menentukan nasib mereka. 

Semua keputusan bukan di tangan kita, melainkan dari pemikiran kita.
Manusia tidak hanya bermimpi saat terlelap dalam tidurnya. Bahkan ia merangkai mimpi saat membuka mata. Banyak diantara mereka berusaha memanfaatkan waktu yang ada untuk mewujudkan mimpi tersebut. Namun, tak sedikit pula yang hanya mengubur mimpi tersebut dan hanya menyimpannya pada sebuah goresan kertas kosong, kemudian membuangnya.

Tulisan sebuah kehidupanpun akan dimulai saat mata itu tidak terpejam lagi. Namun, kala bayangan hitam yang selalu bersama kita itulah kehidupan nyata yang bercahaya. Saat seorang mulai melangkah, sebenarnya ia akan kembali pada langkahnya yang pertama. Namun, ia menapakkan kakinya itu pada tempat yang berbeda. Mereka yang bertahan adalah mereka yang telah menuai takdirnya. Dimana Tuhan selalu mengawasi mereka. Mimpi itu ada cermin diantara kehidupan nyata dan fana manusia. Mimpi itu bukan cahaya ataupun harapan. Tapi sebuah perisai pelindung diantara kekhawatiran kita mendekati kegagalan.
© 2014 theWagia. Designed by Blogger
Proudly Powered by Blogger.